Thursday, December 29, 2011

stasiun dan diam

bangku-bangku kusam
sisa asap sigaret
pembersih peron yang renta
lalu lalang orang
pertanyaan yang perih
kecewa yang berkarat
sakit pecah di dada
sia-sia yang meronta
ah, dimana kamu?
kangen tertawa
sebuah kota yang jauh
rindu main hujan
wajahmu memudar
hanya ingatan kabut
kamu benar tentang ingin
maaf telah menyakitimu
siapa aku ?
just nothingness
hey, ini hidup
sebuah diam menohok
waktu yang pudar
jejak yang tak jelas
lelah berjalan
ingin tidur dalam dunia cahaya
besok?
sebuah hari lain
terima kasih untuk hari kemarin

ps: selalu rindu lelaki yang selalu
menjemput di stasiun itu...

Catatan rel di sebuah jalan

kota ini menyimpan kenangan yang tak rapi
disana sini masih terkoyak catatan-catatan tentangmu
gedung-gedung bisu, wajah-wajah diam, dan carut marut
lampu berdentam di antara sepi sebuah kesendirian dalam
keramaian hinga bingar metropolitan yang lengkap dengan namamu
sepertinya jentera waktu tak cukup untuk menyudahi begitu saja
pintalan-pintalan usia yang makin menggurat dipori-pori kita
mungkin satu hari nanti akan kuletakkan begitu saja
hati yang menggetas untuk diterbangkan oleh angin disisa waktu kita
dengan ingatan tentang sebuah mata.

Wednesday, December 28, 2011

ruang yang meruang


ruang tunggu:

aku tunggu ruhmu disini kata detak pada sebuah bayang
mungkin ini saatnya kita ada di ruang yang sama
ruhmu dan ruhku akan duduk berdampingan
untuk melihat burung kolibri pulang pada
sebuah senja yang berputik jingga
dan mata kita akan kembali bercinta
untuk mengalirkan kembali detak
di tempat dimana darah kembali berpora


ruang nomor empat:

berjuta pertanyaan tentang cinta berhamburan di antara
sunyi yang mendera tiba-tiba dan berdentam sejuta
harap untuk sebuah permintaan
" Maukah kamu berbagi waktu denganku untuk membelah
semua belatung kegelisahaan dan resah yang memekakkan
dada?"
" Mungkin alamat tujuan kita berbeda arah, dan kita mungkin hanya berpapasan
di persimpangan dan sejenak duduk untuk saling menyapa rongga-rongga
yang tertelan senyap pada sebuah malami"
"yakinkan aku tentang dongeng-dongeng purba sebuah akhir yang selalu
bernama bahagia selama-lamanya , padahal sebuah sepatu kaca
akan retak setiap saat ketika berjejak pada realita yang meranggas"
"anak kecil di dalam diriku akan selalu butuh udara dan angin untuk
menerbangkan airmata yang berwarna biru"
"baiklah, selamat tinggal. aku membatu bersama ruangku"

ruang nomor sepuluh:

pada sebuah airmata kutambatkan luka yang mengangga pada sebuah
mimpi abu-abu bernama cinta.
pada sebuah senja kutautkan rasa tentang mimpi upik abu yang retak
tanpa pesta istana.
pada sebuah mata kutanyakan tentang makna sebuah labirin yang
berisi detak yang meronta.

ruang tak bernama:

kita sudah mati ketika kita tidak bermimpi
( ah,meskipun impian serapuh gelembung
sabun bukan?)


ruang dengan detak sunyi:

apa yang kita harus takuti pada sebuah sepi
ketika sunyi adalah deru nafas kita sendiri?


ruang bersama Tuhan:

Tuhan? ah itu sebuah nama generik untuk sebuah kekuatan Maha Besar di luar nalar
manusia.

ruangku :

aku pecinta yang memunguti serpihan rasa yang tercecer pada sebuah senja

ruangmu :

kamu sebebas angin dan udara, sebiru angkasa dan sedalam samodera

...
dan pada sebuah ruang bernama sekarang
kutempelkan nama-nama pada dinding-dinding kenangan
yang melekat begitu saja pada kepala
dengan rekahan luka yang begitu lirih bunyinya

...

( High and Dry -- Radiohead)

Tuesday, December 27, 2011

jejak yang lenyap dibalik dinding



Semua diam dalam derit waktu yang berkarat, hanya sekedar suara desah yang datang diam-diam, dan menawarkan secangkir kopi untuk menahan kantuk yang begitu abadi mengikuti bayang yang lindap dibalik tiktok jarum jam. Kedua tanganmu menangkup erat dan tetes hujan itu menyeretmu untuk bermain dihalaman depan dekat pohon jambu, dan terdengar derap sepatu tentara yang berbaris dalam kecipak air menetes dari daun yang pias menahan dingin, sementara awan terus bergerak ditengah kesiur angin membuyarkan impian yang berjalan pelan disisi jalan diantara dedaunan dan bunga rumput. Bayangan itu berkelebat disela bebatuan , lantas dipungutnya sejumput kenangan dan dilontarkan ketengah danau yang menganga keheranan akan tingkah lakunya ( ah.. rinai hujan terkadang melarutkan waktu yang meleleh bagai karet dan anak-anak kecil itu akan bersorak kegirangan karena mereka dapat memperpanjang masa kanak-kanak mereka).
Arloji itu mengisyaratkan kelelahan yang terbayang dikelopak mata, detik berjalan dengan pelan dan keraguan membayang disetiap seret langkahnya. Makin jauh ia bergerak mendekati puncak hari dan segera saja ditemuinya kebosanan yang konstan ditiap pertemuan jarum pendek dan panjang ( menghasilkan suara lonceng yang mengingatkan kepastian yang kaku), tapi toh ia harus bergerak karena waktu memang harus bergerak ( aku membayangkan gulali merah yang empuk dan manis membungkus arloji itu..)
Siapakah yang memanggilmu dari balik daun bambu, menawarkan kesepian dan gemersik angin lalu membawamu dalam percakapan waktu dan batu. Detak nadi dan degup jantung membawa pesan waktu yang membatu diujung lidahmu, kau sisakan kesepian yang terbuang dipinggir jalan untuk dimakan hewan dan segera saja kau tersadar : waktu demikian beku, bahkan ia tak sempat tersenyum untuk sebuah lelucon yang terlontar dari wajah polos seorang anak yang berangkat sekolah dengan harapan yang membuncah dan masa depan yang tak ia kenali.Tiktok jarum jam mengingatkanmu, jalan tengah ditempuh dengan kecepatan konstan, dan jejakmu menyendiri dibalik dinding logam, mencari pemaknaan yang tepat bagi setiap langkah yang meninggalkan jejak ditanah berpasir..

Friday, May 6, 2011

Perempuan Senja



Panggil saja aku Senja. Aku lahir saat hujan gelap. Suatu kelahiran yang aneh, karena cakrawala tidak berwarna jingga seperti yang seharusnya ketika sebuah senja menjadi pengantar nyanyian malaikat menjelang malam. Bahkan mungkin nama Senja itu asal saja keluar dari mulut ibuku saat dia mengerang kesakitan dan kesal dengan bapakku yang menghiburnya agar tetap sabar. Mungkin benar , saat aku lahir adalah saat dimana epilog termanis dari sebuah hari atau bahkan sebaliknya, saat dimana semua kegelapan berkumpul untuk berpora dalam sebuah malam tanpa suara.
Entah sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi takdirku, di setiap senja aku selalu menangis. Bukan karena sedih, tapi sebaliknya. Saat kaki langit tidak lagi menyimpan matahari, aku selalu seperti punya kehidupan yang berlipat-lipat. Tubuhku selalu meliuk dan kakiku bergerak dengan sendirinya, setipis apapun sebuah bunyi, itu seperti sebuah musik yang wajib didengar. Aku menari dengan sangat gembira, dan karena aku sangat bahagia, maka aku menangis dengan luar biasa. Tarian dan tangis seperti sebuah paduan suara maha dahsyat bagi Semesta.
Orang-orang di kampungku selalu paham bahwa waktu menjelang magrib itu adalah kerajaanku. Yang ada hanya ada aku, desau angin dan senja yang menguasai waktu. Aku benar-benar menikmati tarianku karena aku tahu di setiap pintu yang berderit, banyak mata-mata berjakun dengan berbinar mengikuti detak di hatinya. Aku tidak pernah berniat menggoda mereka karena detak darah mereka sendirilah yang tergoda mengikuti bunyi darahku. Istri-istri mereka akan segera mengunci pintu rapat-rapat sambil mengucap mantra-mantra pengusir roh agar bayanganku tidak lagi menjadi hantu yang diam-diam menggerogoti otak suami-suami mereka.
Perempuan-perempuan itu sebenarnya tidak pernah benar-benar membenciku. Setiap pagi atau siang saat kami bersua di pasar, di puskesmas atau bahkan ketika duduk berdampingan di angkot, mereka akan menyapaku dengan ramah bahkan mereka sering memuji bajuku, dandananku dan tak jarang tarianku. Aku tahu mereka tulus saat mengucapkannya karena mata mereka selalu berbinar dan binar sepasang mata itu seperti keringat bayi yang tak tercemar oleh apapun.
Ya, hanya setiap senja saja tiba-tiba aku berubah menjad perempuan bertaring di mata mereka. Aku sama sekali tidak marah dengan itu semua karena aku tahu sekali bahwa mereka sangat rapuh. Hanya kerapuhan yang selalu melahirkan detak jantung lebih cepat dengan dengusan nafas lebih hebat. Aku memaafkan para perempuan itu karena mereka adalah gambaran sempurna tentang bidadari pemetik harpa bagi bayi-bayi yang kelak akan menempatkan sorga di bawah telapak kakinya.
Kebiasaan menari di setiap senja ini sebenarnya sudah ratusan tahun turun temurun dari moyangku. Nenek dari neneknya nenekku pun adalah penari-penari senja yang luar biasa. Konon nenek dari neneknya nenekku itu tarian-tarian senjanya mampu membuat malaikat maut berpaling dari tugasnya hanya untuk melihatnya menari. Utusan Tuhan yang paling berkuasa atas roh manusia itupun bahkan bersedia menjadi malaikat jatuh dan dikutuk menjadi penghuni kegelapan jika dilarang melihat tarian senja nenek dari neneknya nenekku itu. Perempuan penari senja yang hebat.
Aku sendiri belajar menari dari nenekku. Seorang perempuan sederhana dengan mata kecil yang memancarkan cahaya sorga. Perempuan tua yang mengajarkan bahwa karena perempuan mengenal tubuhnya dengan baik maka perempuan menjadi manusia yang paling mengerti tentang apa itu rasa. Benar, karena ketika setiap bulan kami harus mengeluarkan darah dari rahim kami yang merah muda, juga karena kami melahirkan anak-anak, maka setiap perempuan tahu persis apa bedanya marah, kecewa, sakit hati, sedih dan luka. Sedangkan lelaki sering sekali gagap dengan apa yang terjadi di dalam detak jantungnya sendiri. Nenekku jelas-jelas bangga menjadi perempuan, meski konon kakekku seringkali membuat hati nenekku seperti gelas kristal yang jatuh ke marmer tapi nenekku tetap selalu menari di setiap senja dengan mata bercahaya seperti matahari sorga. Demikianlah, sejak aku keluar dari rahim ibuku yang juga bersinar , kakiku sudah bergerak dengan sendirinya di setiap senja.
Hingga pada satu hari di sebuah senja yang rapuh, lelaki itu datang dalam hidupku. Pada awalnya dia hanya mengagumi tarianku saja, seperti lelaki-lelaki pada umumnya yang selalu terpana dengan gerakku. Ketika bunyi terakir dari dentam musikku berhenti dan jutaan bulir air keluar deras dari tubuhku, dia menyodorkan saputangan dengan sulaman sepasang burung kolibri berwarna ungu. Tanpa menunggu anggukanku, disapukannya saputangan itu di sekujur poriku yang menderas. Jantungku berhenti. Sejuta genderang tiba-tiba mengambil alih dalam sekat-sekatnya. Dia tersenyum dari matanya. Senyuman yang menimbulkan gemerincing kecil pada telingaku untuk mengatakan ”Ya” pada sebuah pernjanjian bernama cinta.
Aku jatuh cinta pada sebuah senja di awal purnama. Sebuah senja yang melahirkan cinta, begitu aku selalu menuliskannya pada angkasa tentang saat itu. Cinta yang membuatku mampu untuk memilihnya dibanding roh penari yang melata begitu saja di dalam diriku.
Akhirnya aku beranak pinak dengan lelaki itu. Sejak kami menikah aku berhenti menari di setiap senja. Para perempuan menjadi lebih ramah kepadaku, dan sering sekali mereka berbasa-basi mengatakan badanku masih sangat indah. Basa-basi yang menyedihkan karena jelas-jelas badanku membutuhkan kain 2 lebih banyak sekarang ini. Tapi anehnya , setiap lelaki yang berpapasan denganku , entah di sawah, di kantor pos maupun ketika kami tidak sengaja berserobok mata di jalanan, mata mereka selalu memancarkan kesedihan luar biasa; mata anak-anak yang kehilangan ibunya.
Selain itu sejak aku berhenti menari di setiap senja, sedikit demi sedikit warna-warna mulai memudar dari segalanya. Baju-baju berwarna selalu menjadi luntur, pohon-pohon bungapun mengeluarkan bunga-bunga dengan warna yg makin memucat setiap harinya. Tepat di kelahiran anakku yang ke 3, semua warna akhirnya total hilang dari desaku. Hanya warna hitam, putih dan abu-abu. Benar-benar sebuah desa yang muram.
Kesedihan menjadi begitu mudah lahir. Meskpun orang-orang selalu memaksakan senyum di wajah mereka, tetapi berkilo-kilo kesedihan yang pekat tersembunyi di balik dada mereka. Kebahagiaan menjadi barang langka. Kematian menjadi merajalela karena orang-orang tidak lagi melahirkan mimpi dari hidupnya. Banyak perceraian terjadi karena akhirnya banyak lelaki yang membatu di malam-malam yang penuh rasa mencekat. Rasa yang sedih itu akhirnya melahirkan kemarahan.
Orang-orang itu akhirnya marah kepada lelakiku. Mereka mengangap dialah yang telah merenggut aku dari setiap senja yang selalu mereka nantikan. Senja yang memberi gairah pada hati mereka. Senja yang memberi kecemburuan dan para perempuan sangat berterima kasih karena menyadari betapa mereka masih punya cinta luar biasa kepada suami-suami mereka. Senja yang memberi gairah pada lelaki-lelaki itu ketika mencumbu para istri, dengan memberi gambaran jelas diriku ketika menari di atas malam-malamnya.
Mereka akhirnya bersekongkol untuk memboikot lelakiku. Mereka tidak pernah lagi menyapanya, dan mengucilkannya dari kegiatan-kegiatan sosial kampung kami. Bahkan ada yang dengan sengaja mencaci-maki penuh kebencian. Lelaki yang selembut burung kolibri itupun terluka. Dia tidak tahan dengan kesepian itu; kesepian yang meluluhlantakkan.
Hingga pada sebuah senja di akhir purnama, lelaki itu pergi. Menghilang tanpa suara, dan hanya saputangan dengan sulaman burung kolibri yang dia tinggalkan di atas meja begitu saja. Aku melolong. Kuteriakkan namanya ke segala penjuru angkasa. Sebuah robekan maha dahsyat merongga di hatiku. Sangat perih. Tiap saat aku menangis seperti menggila. Bahkan orang-orang akhirnya menganggapku demikian.
Demikianlah selama berbulan-bulan sampai menjelang tahun yang baru aku selalu menangis. Tangisan yang makin membuat warna abu-abu mengental. Kesedihan memekat. Di setiap senja, bukan lagi dentam musik dan tarian yang keluar dari dadaku tetapi lolongan kesedihanku menguak di angkasa. Kupanggil-panggil namanya dengan semua cinta yang ada. Angkasa tetap selalu diam. Semakin aku melolong, semakin pekat senja itu terasa.
Hingga pada satu senja yang begitu deras dengan hujan, kuputuskan kuhentikan lolonganku. Kuambil kembali rebanaku, dan kuhentakkan kembali kakiku di atas bumi. Aku yakin sekali saat itu Pertiwi si dewi bumi pasti akan terkejut karena kakiku tiba-tiba membangunkannya. Di dalam hujan yang seperti airmata langit di sebuah senja, aku menari lagi. Kugerakkan tubuhku dengan kehausan yang sangat untuk bergerak. Untuk sesaat desa itu tercekat, karena sudah bermasa-masa desa itu asing dengan bunyi dentam kakiku. Satu persatu mereka memberanikan diri keluar untuk meyakinkan bahwa perempuan senja yang menari itu telah kembali. Satu persatu tirai-tirai jendela mulai tersibak dan debar kecemburuan mulai lagi meruak diantara darah perempuan-perempuan desa ketika suami-suami mereka mulai menggerakkan kembali jakunnya.
“Ssst…jangan nangis nak, perempuan senja telah kembali, jangan ganggu dia dengan tangismu, ” begitu kira-kira buaian para ibu ketika bayi-bayi mereka merengek meminta air dari dadanya. Keriaan kembali melanda desaku. Senyum mulai bertebaran. Sejak hari itu, sedikit demi sedikit warna mulai bermunculan dimana-mana. Setiap senja adalah waktu yang dinanti-nantikan. Ditutupnya semua toko, dan orang-orang yang berpergian dengan terburu-buru kembali pulang agar detak jantung mereka tak terlewatkan saat sangkakala berbunyi, pertanda tarian senja sudah dimulai.
Kugerakkan kakiku yang mungkin sudah mulai tidak kuat lagi menahan berat tubuhku. Tapi entah kenapa kakiku tetap selalu menggila dengan mendentam di atas ibu bumi dan melahirkan puja-puja bagi alam raya diantara senandung bahagia para penghuni desaku. Peluh berhamburan luar biasa dan aku bahagia karena artinya aku bisa menyembunyikan air yang sebenarnya selalu menitik dari sudut mataku. Aku rindu padanya. Sungguh aku benar-benar rindu lelaki kolibriku. Rindu yang benar-benar melahirkan bara.
Semakin hari tarianku semakin dipuja. Orang-orang semakin bersuka. Bukan itu saja, bahkan tarian senjaku semakin menggema tidak hanya di desaku tapi desa sebelahku, bahkan akhirnya semua desa diseluruh penjuru negeri ini. Seperti sebuah ritual sekarang ini, di setiap senja banyak perempuan mulai berdandan seperti seolah-olah akan bersaing ilmu pemikat denganku demi suaminya. Gairah kembali hadir di setiap rumah. Malam-malam selain percintaan yang menggetarkan tak jarang juga pertengkaran terjadi diantara suami istri dengan topik, tentu saja, aku si perempuan senja. Tetapi mereka tahu pertengkaran itu adalah bukti bahwa mereka sebenarnya saling mencintai. Akupun sangat bahagia karena aku mampu melahirkan cinta-cinta di antara malam-malam mereka.
Begitulah. Sepanjang waktu di seumur hidupku aku tetap menari di setiap senja. Perlahan rambutku mulai memutih, kulitku pun pelan-pelan mulai berubah tekstur. Tetapi aku tahu, tarian senjaku tetap mereka butuhkan, dan oleh karenanya dengan rasa bahagia aku tetap menari untuk mereka. Aku tahu nenekku di sebuah tempat yang konon bernama sorga akan tersenyum bahagia karena aku tetap menjadi penari senjanya.
Sekarangpun cucu perempuanku mulai mengikuti bergerak di belakangku setiap aku menari; persis yang kulakukan dahulu dengan nenekku. Aku sangat mencintai perempuan kecil bermata bulat itu. Kami sering menari bersama di antara hujan dan warna-warna jingga di batas cakrawala. Tarian untuk semesta yang kutarikan ini adalah Cinta. Seperti halnya cinta yang selalu kuruahkan pada angkasa dengan satu bisikan “Lelaki kolibriku, dimana kamu?”

Ubud, 25 Desember 2010
Untuk lelaki-lelaki kecilku : Banyu Bening & Langit Jingga yang lahir pada sebuah senja…
Untuk Lelakiku: Erwin M Sitorus

Wednesday, October 27, 2010

Rongga



Desa yang aneh. Saat warna merah di ujung langit dimana langit mengeluarkan warna terbaiknya, desa itu senyap. Begitu hening dan pulas. Meski lampu-lampu mulai dinyalakan tapi hampir nyaris tidak ada satupun desah keluar .Mencekam. Suara membisu bersama desir angin yang berbisik di celah-celah hutan bambu dengan intonasi sangat lirih, begitu memelas. Batu-batu jalanan desa bahkan seperti tahu bahwa tidak seharusnya suara menjadi penguasa saat senja mulai datang dan kesedihan-kesedihan tanpa terasa saling menyapa di antara awan yang berwarna oranye. Begitu pekat. Kesedihan beranak pinak dan seperti bedug bertalu-talu memecahkan dada. Layaknya aturan dari Tuhan , di desa itu kesedihan tidak boleh dibicarakan. Apalagi didiskusikan. Seperti pemerintah tiran, ketika kesedihan dibicarakan maka tanpa ampun lagi kerongkongan para penduduk berlubang dengan sendirinya, dan suara selamanya tidak akan pernah keluar dari mulutnya. Beberapa orang dengan rongga di kerongkongannya segera menutupi lehernya dengan berbagai cara, ada yang memakai kalung dengan batu mulia sebesar lubang itu, ada yang kemudian memakai kain , ataupun memesan pakaian khusus agar leher mereka tertutup rapat. Pada intinya lubang itu harus ditutupi, karena kalau tidak, rongga di leher itu begitu mudahnya infeksi dan kesakitan akan semakin menghebat. Kesedihan yang melahirkan kesakitan. Orang-orang di desa itu tidak ingin mengalami kesakitan, sehingga setiap kesedihan datang mereka akan berupaya sekuat tenaga menyembunyikannya dengan rapat, bahkan nafas mereka pun tidak tahu dimana kesedihan itu berada. Sepanjang pagi dan siang akan tampak hanya muka-muka bahagia, tawa-tawa yang menggelegar, basa-basi yang begitu meruah. Bahkan orang-orang yang berongga di lehernya pun akan selalu menampakkan muka terbaik mereka. Membentuk senyuman. Mereka seperti mencoba menebus keteledorannya karena sudah membuka kesedihan kepada angin dan suara. Dunia adalah bahagia , begitulah jargon yang berlaku . Kesedihan adalah kejahatan. Sebuah rasa yang harus dihindari jauh-jauh kalau perlu harus dimusnahkan. Haram hukumnya buat orang yang menerima kesedihan , apalagi menangisinya dan berbagi. Sejak lahir, para bayi tahu bahwa jargon itu seperti dogma agama yang terus menerus didengungkan kepada roh-roh suci itu. Harus ditaati dan tidak boleh dibantah apalagi dilawan. Para ibu secara otomatis membuai anak-anaknya dengan senandung anti kesedihan. Ketika anak-anak membesar dan bertanya tentang kata sedih, buru-buru dibungkamnya mulut mereka rapat-rapat sambil berkata bahwa penguasa kegelapan akan segera datang begitu kata itu keluar dari mulut anak-anak yang begitu indah bola matanya itu.
”Nak, bunuh kesedihanmu, kita cincang airmata demi dunia yang gembira, jauhi dunia gelapmu , hanya tawa yang berhak di hati kita” demikian kira-kira senandung itu.Sambil menikmati kehangatan dada ibunya yang ranum, para bayipun dengan sendirinya menyimpan gambar tentang dunia yang hanya boleh bahagia.
Ketika pemilihan kepala desapun, para kandidat berlomba-lomba menawarkan program paling efektif bagaimana melawan kesedihan . Seperti supermarket dengan diskon besar-besaran menjelang hari raya, program yang paling menarik akan diserbu habis-habisan . Bahkan para mahasiswa yang melakukan kuliah kerja di desa itu diwajibkan hanya mengajar program kebahagiaan dan sebuah kontrak bermeterai harus mereka tanda tangani dengan sangsi sangat berat bagi mereka yang melanggarnya. Tiran emosi! Begitu umpatan para mahasiswa . Benar-benar desa yang suka cita. Semua mematuhi peraturan desa itu tanpa kecuali. Termasuk Kemplu, jagoan desa itu. Dia bahkan begitu gencar menggaungkan kampanye bahwa kesedihan adalah kejahatan yang amat besar. Airmata harus ditekan habis-habisan. Bahkan ketika badai besar menerbangkan keluarganya entah kemana , Kemplu tertawa gembira, diadakannya pesta besar dan dijamunya hampir seluruh penduduk desa. Tak lama kemudian dia kawin lagi dan beranak pinak. Benar-benar hidup harus berjalan katanya. Ditertawakannya orang-orang yang berongga di lehernya. Orang-orang yang lemah. Begitulah kira-kira cemoohnya.
” Hanya orang-orang yang lemah yang menangis, emosi yang di umbar itu hanya milik orang-orang yang tidak bermartabat. Airmata hanya sebuah kebodohan”
Hanya sebuah senja yang tidak bisa berbohong. Ketika warna di batas antara dunia dan mimpi itu seperti airmata yang hampir jatuh, kesedihan seperti menyeruak begitu saja dari dada para penghuni desa itu, kepanikan selalu melanda setiap menjelang senja. Segera diikatnya dada mereka dengan tali yang begitu erat, mulut mereka segera ditutup dengan plester yang sangat kuat. Mereka mati-matian berusaha agar kesedihan itu tidak meledak agar leher mereka tidak berongga dan kesakitan tidak akan lagi menjadi teman mereka sepanjang nafas yang tersisa. Mereka diam di rumah dengan peluh berbulir-bulir menahan agar ledakan dada yang sarat dengan kesedihan tidak harus jebol dari mulut dan mata mereka. Setiap orang mencari cara agar kesedihan tetap pada tempatnya. Di ujung paling sepi hatinya. Kalau perlu Tuhan pun tidak pernah bisa menemukannya untuk merobeknya dan dicatat dalam catatan sucinya. Di antara mereka ada yang dengan tegas menukar dengan suka rela kesedihan yang sudah tidak bisa dikuasainya dengan senyum lembut malaikat maut. Kesakitan karena kerongkongan berongga lebih mematikan dibanding penggalan pedang yang paling tajam sekalipun. Di setiap semburat jingga mulai bertiup di ujung cakrawala, hampir tidak ada satupun pintu dan jendela yang terbuka. Semua rapat menyimpan kesedihan yang meledak-ledak di rumah-rumah mereka. Anehnya Kemplu selalu menghilang di setiap senja. Istrinya hanya tau dia pergi ke hutan di ujung desa. Hutan yang dinamai hutan Gembira oleh penduduknya meski entah kenapa nama itu seperti berolok-olok dengan udara yang dihembuskannya setiap pagi. Udara yang pekat dengan kesedihan. Jika angin berhembus di atas pohon-pohon hutan itu , gesekan daun-daunya menyenandungkan requiem yang paling pedih. Badan pohon-pohon itu bergaung bersaut-sautan dengan irama yang paling lantang. Senandung kesedihan yang sangat menghebat luar biasa. Ketika orang menyentuh papan nama ”Hutan Gembira”, mereka seperti meremas menembus jantung dan mengambil dengan paksa kesedihan di dalamnya untuk dimuntahkan. Persis ”ilmu Rogoh Jantung” para penjahat keji di film laga . Meski demikian teka-teki tentang hutan itu belum pernah ada yang bisa menjawabnya. Bahkan Kemplu yang setiap pagi keluar dari hutan dengan wajah penuh tawa dan keceriaan luar biasa selalu menjawab bahwa kesedihan hutan itu sudah ada bersama tanahnya saat Semesta menanam pohon pertama kalinya di sana. Semesta menangis karena Adam dipisahkan dari Hawa, dan itu dispensasi satu-satunya kenapa kesedihan diperbolehkan di muka bumi ini. ” Adam manusia pertama, jadi dia punya hak khusus dan hanya satu-satunya yang boleh merasakan rasa sedih itu. Kalian tahu rasa itu begitu memekat di hati maka anak cucunya harus membasminya” Sihir. Kata-kata ajaib. Semua mengamini tanpa ragu setitikpun.
Hingga satu hari, kepala desa memutuskan bahwa satu-satunya jalan agar tingkat kebahagiaan di desa itu meningkat pesat adalah membuat taman keriaan yang termegah di negeri ini dengan cara membabat Hutan Gembira. Semua setuju, juga orang-orang dengan rongga di kerongkongannya. Mereka sangat berharap dengan adanya taman keriaan itu rasa sakit yang bernanah di kerongkongannya hilang. Hanya Kemplu yang protes. ”Kita perlu oksigen segar dan itu merusak lingkungan” begitu dalihnya menirukan para aktifis linkungan di televisi dengan teriakan paling lantang. Kepala desa yang mengaku keponakan jenderal yang berkuasa itu tetap keras kepala. Saat Kemplu mengorganisir anti taman keriaan, saat itu pula buldoser-buldoser didatangkan untuk menyapu rata hutan Gembira . Dalam hitungan jam sebanyak beberapa jari tangan saja, hampir seluruh pohon tumbang. Hanya satu pohon yang tersisa. Kemplu pun pasi. Suasana tiba-tiba semencekam saat senja, padahal terik matahari seperti meretakan kepala mereka. Seperti saat sakaratul maut tersenyum dengan manisnya dan siap mencabut semua jejak nafas yang tersisa di dunia ini. Buldoser mendekat ke satu-satunya pohon yang tersisa. Ketika mulut buldoser hanya menyisakan satu senti saja dari ujung pohon itu tiba-tiba suara Kemplu keluar dengan histeria yang hanya dimiliki oleh orang dengan kesedihan yang begitu pekat dan kental.
”Jangan ...!” suara yang bercampur isak yang sudah bertahun membatu. Seperti geledek di musim kemarau yang parah, semua warga jantungnya berhenti berdetak. Kemplu lelaki paling kuat dan paling jagoan di desa itu melantangkan kesedihan yang begitu hebat. Isak tangis yang meruah tanpa bisa dihentikan oleh buaian perempuan berpayudara sorga sekalipun.
”Di rongga pohon itulah keluargaku tinggal. Mereka tidak hilang bersama badai. Aku bercakap kepada mereka di setiap senja. Aku berikan percakapan bernama air mata di sana. Rongga itu adalah mulutku sekaligus telingaku.. Aku mencium bau keringat mereka dan kubelai dengan seluruh cinta yang aku miliki . Badai itu telah menipu kalian. Keluargaku selalu sembunyi di rongga itu, kucumbu mereka dengan percakapan paling sepiku. Maafkan , kesedihan ini tidak tertahankan. Aku butuh bicara tentang kesedihanku, aku butuh berbagi. Aku tidak tahan. Tolong , jangan ambil pohonku, hanya itu satu-satunya yang mau mendengarkanku.. .Aku akan mati tanpa rongga itu......” suaranya makin menghilang. Sebuah rongga di kerongkongannya tiba-tiba menyeruak. Semua orang menjerit, karena rongga itu tidak berhenti sebatas kerongkongan, rongga itu makin membesar, dan membesar hingga akhirnya tubuh Kemplu meledak dan serpihan tubuhnya berhamburan, membeku seperti batu. Hanya jantungnya yang tetap berdetak. Istri barunya pingsan, anak-anaknya meleleh. Hening pekat. Rahasia kesedihan hutan Gembira pun tersingkap. Sambil setengah meyakinkan dirinya bahwa adegan itu mungkin sebuah rekayasa ilusi dari Kemplu, kepala desa memungut jantung berdetak itu. Berhati-hati dimasukannya j ke dalam rongga pohon terakhir itu. Begitu dimasukkan, pohon itu hidup seperti di ruang keluarga bahagia di iklan TV. Suara gelak tawa yang menggelegar, dentingan piano, keriaan yang penuh. Semua warga yang mendengar suara dari rongga pohon itu tahu bahwa Kemplu benar-benar bahagia di dalamnya.
Sejak itu, ada yang sangat berubah. Setiap senja, desa itu begitu riuh dengan tawa. Ruang-ruang keluarga menjadi hangat. Pintu dan jendela di buka lebar-lebar, meski angin mungkin akan merapuhkan tubuh mereka, tapi para penduduk desa itu tahu bahwa hati mereka akan sangat luar biasa menahannya. Mereka tahu bahwa setiap senja jatuh, hati mereka akan mengeras dan menguat. Mereka menerima dengan suka cita rasa yang memekat. Kesedihan yang sangat bersahabat. Ketika mereka mengenal begitu baiknya, kesedihan justru menjadi begitu pemurah dan melimpahinya dengan detak bernama bahagia. Hutan itu tetap berfungsi sebagai ruang publik. Sekarang justru bernama Taman Air Mata. Siapapun bisa dan boleh menangis sepuas-puasnya . Bahkan pengunjung taman yang sedang gembira dan ingin merasakan bagaimana indahnya kesedihan di taman itu bisa membeli obat perangsang kesedihan yang biasanya ditawarkan petugas penyobek tiket tanda masuk. Tak lupa setiap pengunjung taman sebelum pulang pasti akan selalu menyempatkan berfoto di pohon Kemplu, demikian mereka menyebut satu-satunya pohon yang tidak di tebang itu. Pohon yang luar biasa merindang
...
Berterimakasihlah kepada kesedihan dan airmata karena bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna. Sebuah lingkaran tidak harus bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu lurus.
...
Sebuah senja yang indah, sebuah senja yang pekat...

Ubud, 15-Juni-2010
Untuk lelaki-lelaki kecil hebatku, Banyu Bening dan Langit Jingga

Sunday, March 28, 2010

Lelaki yang Membelah Bulan


Aku menemukannya. Dalam semak-semak dengan sejuta bisu dalam matanya. Aku tidak tahu apakah dia mengenalku sebagai perempuannya atau tidak. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan. Separuh tubuhnya bersinar dengan warna keemasan yang aneh. Warna yang menyilaukan mata, tapi separuh dari ruhku tetap ingin membuka bagi warna itu.

“Ini warna dari negeri bulan,” katanya. Bulan yang diam. Aku pun mengangguk, mengiyakan sapanya. Sebuah negeri yang aneh pikirku. Laki-laki itu seperti membaca pikiranku. Tangannya kemudian menyentuh ujung jariku, diciumnya dengan lembut satu per satu jariku seperti mengeja huruf-huruf yang berdetak dalam dadaku.

”Negeri bulan itu indah sekali, Sayang. Kamu harus ke sana, aku temani kamu.”

Laki-laki itu pasti pengkhayal. Negeri bulan pasti tidak ada. Aku memang tidak suka khayalan. Karena bagiku khayalan seperti gelembung-gelembung sabun yang rapuh. Ketika kita meniupnya, gelembung itu memancarkan warna-warna yang membuat hati kita percaya bahwa harapan itu akan selalu membesar setiap kali kita meniupnya. Kita akan meniupnya semakin besar dan melepasnya ke angkasa. Ketika angin mengajak gelembung itu makin ke atas, kita pun makin riang dan mulai memercayai bahwa harapan kita akan selalu mendapat jawabannya.

Pyarrr! Ketika gelembung itu pecah, sebuah kosong yang hampa tiba-tiba menjadi seperti seorang diktator yang tiba-tiba menjajah hati kita. Aku benar-benar benci khayalan. Sungguh. Lelaki itu tetap tersenyum. Tangannya bergerak ke arah langit, seperti sebuah puja yang tak putus untuk semesta. Dia tetap diam sambil sesekali sinar dalam tubuhnya berkejap seiring suara detak. Aku percaya sinar itu adalah sinar jadi-jadian.

Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu mulai sepi. Sisa-sisa bau arak para penabuh gong bertebaran di mana-mana. Digesernya tubuhnya mendekat ke arahku. Aku mencium bau tubuhnya. Bau itu begitu gelisah, meruap sampai ke lorong-lorong kedai itu. Kegelisahan yang mulai beranak-pinak dengan berbagai kemarahan. Lelaki itu terus memancarkan cahaya yang aneh dari tubuhnya.

”Kamu ngapain malam-malam di kedai ini? Ini tempat para pemuja malam atau kamu pemiliknya?” dia bicara kepadaku sambil mulutnya tak henti mendesis seperti suara ular dengan gumam yang tak jelas. Separuh tubuhnya berdenyut secara konstan. Sinar dari dalam separuh tubuhnya itu seperti memberi berbagai macam ruang rasa, kadang aku liat dia begitu kesakitan dengan cahaya-cahaya itu, tapi kadang dia begitu menikmati setiap kerlip cahayanya. Tubuh yang benar-benar aneh.

”Ha-ha-ha kamu takjub kan dengan tubuhku? Kamu pasti menebak-nebak bagaimana aku bisa punya tubuh seperti ini. Sudah enggak usah gengsi untuk mengiyakan. Aku benar-benar tahu kamu sangat terpesona denganku.”

Sialan, benar-benar narsis. Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Tapi dia benar-benar kurang ajar, karena yang dia katakan itu sangat benar. Aku benar-benar tak kuasa menolak separuh tubuh yang bersinar itu. Dia makin merapat dan aku pun berdetak. Tangannya dengan lembut mulai membelai belakang tubuhku.

Seperti sihir raksasa, aku pun mulai menggerakkan tanganku dan menyentuh tubuhnya. Seperti masuk dalam kerajaan awan, tubuh itu begitu lembut dan hampir tanpa tulang. Cahaya itu terasa dingin. Aku tersentak, rasa di dalam tubuh itu tak asing bagiku…. Rasa sepi yang dari dalam nadinya tumbuh bercabang berbagai pertanyaan. Benar, cabang itu seperti jaring laba-laba yang tak berujung. Pertanyaan-pertanyaan yang sering sangat nadir.

Ah, laki-laki ini tidak seajaib yang aku kira. Dia hanya lelaki seperti para lelaki yang biasanya mampir di kedai ini. Lelaki-lelaki yang mengawini rasa sepi. Kesepian yang menasbihkan dirinya menjadi Tuhan bagi malam-malamnya. Anehnya aku selalu merasa jatuh sayang dengan lelaki-lelaki itu. Mereka seperti anak kijang yang tersesat di tengah malam. Begitu rapuh dan lembut meski mereka selalu berusaha mati-matian sekuat tenaga menjadi raksasa-raksasa dengan seringai yang menyilaukan.

Aku pun sering kali berpura-pura takut dengan seringai itu, padahal aku selalu sangat ingin memeluk anak kijang jadi-jadian itu dengan dadaku. Meski demikian anehnya, aku selalu punya keinginan anak kijang jadi-jadian itu menjadi raksasa-raksasa sungguhan, meskipun aku tahu setelah mereka menjadi raksasa, mereka akan melumatku hidup-hidup, mengunyahnya dan akhirnya melemparkan tubuhku yang setengah hidup itu ke tepi jalan. Tubuhku yang terpecah-pecah itu tidak pernah benar-benar mati, tubuhku akan dengan sendirinya bersatu kembali.

”Mengapa kamu datang ke kedai ini? Tidak ada satu pun yang menarik dari kedai ini. Bahkan aku pun tidak bisa lagi menjadi penabur birahi yang baik buatmu. Lihatlah tubuhku sudah separuh cacat. Berkali-kali anak-anak kijang yang menjadi raksasa itu melumatku, memamahnya dan memuntahkannya begitu saja.”

Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya tubuhnya terlalu menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Satu per satu para lelaki di kedai itu mulai pergi, hanya ada satu dua saja yang masih enggan untuk berpamitan dengan sepinya untuk kembali pulang.

Lelaki dengan tubuh separuh bercahaya itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkannya wajahnya tepat di samping telingaku. Seperti sihir, kepalaku menoleh tepat di depan kedua matanya yang begitu hitam. Seperti labirin menuju bawah tanah yang tergelap. Aku terpaku begitu saja di depan mata itu. Ruang-ruang di antara sekat-sekat jantungku merongga luar biasa dan di antaranya mengalirlah darahku yang berwarna merah jambu.

”Aku menyukai matamu.”

Labirin di dalam matanya bersuara lirih. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku. Pasti mukaku memerah seperti buah plum yang telah masak. Aku mengejap untuk menghindar dari serbuan warna hitam yang pekat dari mata yang bernuansa nujum itu. Ribuan dentam di dadaku berdegup oleh satu kalimat yang sebenarnya sering sekali kudengar dari para lelaki yang menuai taburan birahiku. Selalu seperti sebuah entah, mata yang pekat itu menyimpan satu kejujuran yang membuatku sangat nyaman menikmati mungkin sebuah kebohongan lagi.

”Ha-ha-ha-ha-ha terima kasih, Sayang. Awas kamu jangan jatuh cinta dan jangan rindu aku setelah pulang nanti ya,” seperti sebuah hafalan yang begitu biasa meluncur dari mulut penari-penari malam sepertiku mencoba untuk menghindar dari degup karena mata pekat itu. Sebuah nyeri menyergap tiba-tiba karena aku tahu aku amat sangat berbohong dengannya.

Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan. Sebagai penari malam, aku hanya boleh bergerak mengikuti irama malam. Setiap keringat adalah bunyi dan setiap lenguh adalah ritme dari desah rasa sepi yang begitu menyengat para lelaki pemuja malam. Seperti yang sudah tertebak, lelaki itu hanya tersenyum. Mata itu tetap pekat.

”Kamu benar-benar tidak ingin tahu tentang negeri tempat aku datang?”

Mata itu mulai merajuk. Tangannya terus membelai punggungku dan tubuhnya yang gelap tanpa cahaya semakin pekat, sedangkan separuh tubuhnya yang bercahaya semakin gemilang. Satu paradoks yang luar biasa aneh.

”Mengapa kamu begitu ingin aku bertanya tentang negerimu?”

”Karena aku ingin kamu datang secepatnya ke sana.”

”Sekarang?”

”Iya, secepatnya. Tidak ada waktu lagi.”

Waktu yang diam. Pepat tanpa suara. Waktu pun berdetak. Detak itu dari jantung kita sendiri. Seperti tarian-tarian awan, waktu pun bergerak dengan semena-mena. Membentuk gambar-gambar peristiwa yang tak pernah jelas. Waktu hanya ada di dalam pikiran. Aku pernah berpikir bahwa jika aku bisa menghentikan pikiran, aku akan bisa menghentikan waktu. Alangkah bahagianya jika itu terjadi. Aku akan bisa memilih waktu bagi kemudaanku. Waktu selalu akan bisa berpora dalam diamnya.

Lelaki itu terus menatapku dalam pekatnya. Separuh tubuhnya yang bersinar semakin menyilaukan. Bibirnya terkatup rapat dan digerakkannya ke arahku. Ciuman dalam cahaya. Begitu aku menyebutnya saat itu. Aku mulai menebak. Mungkin dia malaikat yang terjatuh dan ciuman itu akan membuatnya menjadi malaikat utuh kembali sehingga dia bisa mengepakkan sayapnya dan berlari menuju tempat di mana asal matahari tanpa takut terbakar seperti Ikarus yang malang.

”Kamu malaikat jatuh?” Lelaki itu terbahak hingga hampir saja dia terjungkal dari sampingku. Senyumnya membelai rambutku. Jari-jariku pun kembali dikecupnya satu per satu dan mata pekat itu kembali menatapku dengan sihir yang tetap memukauku.

”Sama sekali tidak, Sayangku. Malaikat jatuh tidak akan bercahaya tubuhnya. Dia tidak lagi memerlukan cahaya karena dia telah menukarnya dengan tempat di mana warna apa pun tidak akan pernah terlihat. Gelap.”

Jawaban lelaki itu melegakanku sekali. Artinya masih ada harapan dia seperti lelaki-lelaki pengunjung kedaiku. Lelaki-lelaki yang selalu mengisi malam-malamnya dengan nyanyian-nyanyian sunyi yang memekakkan. Bibir lelaki itu masih amat sangat dekat dengan bibirku. Tercium dengan jelas detak jantungnya lewat hembusan nafasnya yang menderu. Perlahan kuberanikan diri membelai rambutnya dengan tanganku yang terus terang sedikit gemetar.

”Mengapa kamu datang?”

Tiba-tiba dada ini meruah dengan kepedihan yang pekat ketika kutanyakan itu. Aku pun tersekat. Aku tahu sebuah perih yang akan pasti menjadi penghuni baru ruang-ruang bernafasku sedang setia menunggu giliran untuk menempatinya. Sebuah kebodohan luar biasa dan aku rela menjadi bodoh. Sungguh benar-benar bodoh.

”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukanmu.”

Aku benar-benar membencinya ketika lelaki itu mengatakan itu. Aku benci karena aku menyukai kata-katanya. Entah kata-kata itu sudah pernah terlontar ke ribuan makhluk sekali pun, ternyata aku tetap menyukai kata-kata itu. Bodohnya lagi aku selalu memercayai kata-kata. Meskipun aku sering sekali terluka oleh kata-kata, tapi aku tetap mencandu kata-kata.

”Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi di saat yang salah, Sayang,” aku mencoba untuk konsisten menjadi salah satu penari malam ketika aku membelai rambutnya dengan rasa heran yang luar biasa ketika aku sadar aku tidak sedang menabur birahi pada kejapan mataku. Aku sering terjebak dengan waktu yang meluka. Waktu-waktu yang salah ketika aku memilih menjadi kekasihnya.

”Mungkin iya mungkin tidak. Aku dikutuk karena aku mencoba membelah bulan. Aku ingin tahu apa warna hitam di balik cahaya terang bulan. Negeri bulan pun marah. Tanah di sana kemudian merajamku. Karenanya separuh cahaya bulan itu ada di tubuhku, sedangkan separuh lainnya selalu ada dalam kegelapan. Aku cari separuh cahaya untuk mengisi ruang-ruang gelap di tubuhku yang lain sehingga tubuhku menjadi utuh.”

Sialan, aku berharap jadi separuh cahayanya. Aku benci. Aku tersanjung. Aku bahagia. Aku senang. Aku meniup buih-buih sabun itu. Aku khawatir buih itu pecah. Aku terbang. Aku ada di ketinggian. Aku pasti terjatuh. Aku menunggu waktuku pecah. Aku begitu lemah. Aku sedih. Aku takut. Aku meluka. Aku mencinta.

”Ha-ha-ha-ha-ha-ha… kamu itu aneh. Kamu mencari separuh cahayamu yang hilang, tapi kamu mencarinya di malam gelap seperti ini, dan kamu pun salah orang dengan menemuiku. Aku sama sekali tidak punya cahaya yang kamu cari.”

Aku benar-benar marah dengan kata-kataku sendiri. Aku benar-benar takut dia tahu aku ingin jadi separuh cahayanya. Menjadi penghuni malam dan menemani lelaki-lelaki malam sudah amat membuatku nyaman. Aku tidak pernah bermimpi menjadi Engtay yang menunggu Sampek dalam sakratulmautnya. Mitos cinta abadi memang memuakkan. Mitos yang menciptakan buih-buih sabun bagi jutaan umatnya. Aku menyebut umat itu adalah kaum Pencinta. Padahal buatku bagi kaum Pencinta harus menyukai semua warna, termasuk hitam dan malam.

”Aku benar-benar perlu separuh gelap dalam tubuhku ini terisi cahaya.” Lelaki itu menyimpan bergalon-galon air mata yang tidak pernah tumpah. Air mata yang membuat bulan itu terbelah ketika dia mengejapkan matanya dan menjadi serakah dengan cahaya.

”Pergilah, ini sudah menjelang subuh. Berjalanlah kembali, nanti kamu akan ketemu persimpangan-persimpangan yang menarik dalam perjalananmu. Mungkin kamu akan terluka, mungkin kamu akan bahagia. Tapi kamu akan tahu bahwa di persimpangan itulah sebuah hidup akan bermula. Pergilah Sayangku. Aku tidak akan menunggumu. Begitu banyak lelaki yang membutuhkan malam-malamku.”

Aku mengantarkannya pada ujung pintu, punggungnya dengan separuh cahaya yang berpendar masih tetap memancarkan bau yang sama persis dengan ketika aku berjumpa dengannya di sebuah episode di ujung senja pada sebuah masa. Aku tahu aku mungkin separuh cahaya yang dia cari itu, tapi aku pikir berbohong padanya tentang hal itu adalah hal yang terbaik untuk hidupnya. Lelaki itu terus berpendar dari separuh tubuhnya dalam gelisah.

Ah, kubutuhkan tanah lapang yang begitu luas saat ini di dadaku. Kulambaikan hatiku. ”Datanglah lagi pada sebuah malam di sebuah makam. Sayangku.”



Ubud, 26 Januari 2010